FILM “ FREEDOM WRITERS”
1.
Sinopsis
Film “Freedom
Writers” merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang
pendidik ( guru) di wilayah New Port
Beach, Amerika Serikat bernama Erin Gruwell yang diperankan oleh Hilary Swank.
Dimana dengan tekad dan semangat dari Erin Gruwell untuk membangkitkan kembali
semangat belajar anak-anak diwilayah New
Port Beach, Amerika Serikat tersebut. Erin Gruwell merupakan wanita yang
memiliki hati nurani dan rasa kepedulian yang tinggi akan pendidikan teruntuk
anak-anak pada masa itu. Erin Gruwell juga merupakan sosok wanita ideal yang
memiliki pendidikan tinggi dan pengetahuan luas serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan tersebut secara
baik dan benar.
Erin Gruwell datang kesalah
satu sekolah yang ada di Amerika serikat tepatnya diwilayah New Port Beach bernama Woodrow Wilson High
School sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban
perkelahian kekerasan antar geng dan konflik rasial. Tujuan utama Erin
Gruwell sangat mulia, yaitu ingin
memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah akibat masa lalu
mereka yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar dikelas
tersebut yaitu ruang 203 sekolah menengah Woodrow
Wilson.
Dengan semangat dan tekad
baja nya Erin Gruwell datang ke sekolah pada hari pertama, disana ia bertemu
dengan Imelda Staunton, pemeran Dolores Umbridge di Harry Potter and The Order
of The Pheonix, yang menjadi kepala departemen sekolah. Selanjutnya Erin
memasuki Ruangan kelas menunggu beberapa menit masih belum datang siswa-siswa
pada saat itu. Tak lama kemudian ruangan kelas dipenuhi dengan siswa-siswa yang
masuk dengan ciri dan gaya khas mereka yaitu seperti tidak menghormati guru
yang ada diruangan tersebut.
Ketika tiba dirumah Erin
menceritakan hal tersebut kepada suaminya yaitu Steve Gruwell yang diperankan
oleh Scott Glenn dan memintanya agar tidak menceritakan hal tersebut kepada
ayahnya.
Sekecil apapun permasalahan
yang terjadi dikelas siswa-siswa sangat mudah terpicu akan perkelahian akibat
teringat kejadian di Los Angeles, California pada tahun 1992 yang mengakibatkan
korban perkelahian kekerasan antar geng
dan konflik rasial pada masa itu. Dan Erin pun menyadari bahwa kejadian
tersebut masih terbawa ke ruang kelas 203 yang ia masuki saat ini. Di dalam
kelas mereka duduk berkelompok menurut ras masing-masing (yang berkulit putih
bersama geng nya) dan (yang berkulit hitampun demikian). Tak ada seorang pun
yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda. Kesalahpahaman kecil yang terjadi
di dalam kelas bisa memicu perkelahian antarras. Pada saat Erin menulis dipapan
tulis terjadi lelucon dengan gambar disebuah kertas yang memicu pertengkaran antara Eva (April
lee Hernandez) dan Erin dimana Eva mengungkapkan segala kekesalannya terhadap
orang berkulit putih yang mengingatkannya pada kejadian masa lalu, Eva pun
berkata “ aku benci orang berkulit putih’. Erin menjelaskan ini bukan hanya
masalah warna kulit, “ jika kau ingin dihormati
maka kau yang harus memberi rasa hormat itu.”Aku seorang guru,aku tidak peduli apa warnaku.
Haripun berlalu Erin tidak
putus asa, ia terus mencari ide untuk dapat menaklukan hati anak-anak didiknya.
Berbagai usaha dilakukan Erin hingga pada satu pilihan Erin mencoba memberikan sesuatu
ysng baru yaitu memberikan pendapat kepada Ms.Campbell dan Dr. Carl Cohn(Robert
Wisdom) untuk membuat sebuah buku seperti buku “Anna Frank”.Namun sayangnya hal
tersebut tidak diterima oleh kedua rekannya, ia malah ditolak mentah-mentah.
Akhirnya ia memutuskan bertindak dengan caranya sendiri dengan membuat suatu
permainan yang diperuntukkan kepada siswa ruang 203 yaitu berjalan digaris
merah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa-siswa
bersahabat dengannya lalu ia memberikan buku harian yaitu siswa-siswanya
diminta untuk menulis buku harian untuk menceritakan kisah sendiri maupun pada
diri sendiri dan dikumpul dilemari kelas setiap selesai menulisnya. Satu
persatu siswapun mengambil buku harian yang dibagikan oleh Erin. Erin meminta
mereka menulis segala aktivitas yang mereka lakukan ataupun yang mereka rasakan
setiap waktunya yang harus dituangkan kedalam tulisan tersebut. . Cara ini
ternyata berhasil. Buku-buku harian dari para murid-muridnya setiap hari
kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan
mereka pikirkan setiap hari.
Hingga pada suatu ketika
Erin membaca satu persatu buku Harian siswa-siswanya. Dan Erin mengambil
kesimpulan bahwa para siswanya masiih dipengaruhi oleh tragedi masa lalu yang
hingga saat ini masih membayangi mereka. Hingga pada akhirnya Erin pun mengajak
siswa-siswanya untuk menyadari bahwa perang antar geng ataupun antar ras baik
itu orang berkulit putih maupun berkulit hitam bukanlah menjadi penghalang
untuk melanjutkan kehidupan yagn lebih baik dengan didukung oleh pentingnya
pendidikan dan memajukan pendidikan itu sendiri. Dan ia pun dapat memenangkan
hati siswa-siswanya.
Walaupun semua usahanya itu
tidak didukung oleh rekan-rekan guru, pihak sekolah, dan suaminya, Erin terus
maju. Bahkan, dia rela mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi
membeli buku-buku bacaan yang berguna bagi para muridnya.
Hasilnya, semangat belajar
murid-muridnya kembali muncul. Akhirnya, banyak dari murid-murid di kelas Erin
Gruwell yang menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi. Buku harian yang mereka tulis diterbitkan
menjadi sebuah buku berjudul ‘The Freedom Writers Diary’.
Film ini menceritakan bagaimana
sosok seorang guru yang berjuang untuk anak didiknya demi terciptanya
pendidikan yang baik, sehat dan teratur dengan kegigihannya berjuang meluruskan
pemikiran anak didik yang terpengaruh oleh lingkugan sekitar dimasa lalu.
Dengan keyakinan yang kuat Erin berusaha mengembalikan semangat menempuh
pendidikan yang lebih baik dan melanjutkan pendidikan tersebut secara
berkesinambungan dan pantang menyerah.
“ Freedom Writers” memiliki
alur cerita yang mudah dipahami dan juga dialog yang gampang dimengerti.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada remaja yang ditampilkan di film ini
juga cukup dekat dengan permasalahan remaja pada umumnya, tentang pencarian
jati diri dan pelanggaran-pelanggaran peraturan untuk mengukuh-kan eksistensi
diri. Semua itu dibungkus dalam pemasalahan perang antargeng.Fakta
menarik dari film ini salah satunya ada pada adegan saat murid-murid Erin
bertemu dengan orang-orang korban Holocaust. Yang berperan menjadi korban
Holocaust adalah benar-benar korban Holocaust sendiri. Sutradara Richard
Lagravenese tak perlu susah payah meng-arahkan aktor dan aktris pemeran
murid-murid Erin untuk terlihat tercengang saat mendengar cerita para korban
Holocaust itu. Hal ini karena saat pengambilan adegan itu, para aktor dan
aktrisnya benar-benar tercengang mendengar cerita para korban Holocaust
tersebut.
Peraih Academy Award 2
kali, Hilary Swank memerankan Erin Gruwell dengan sangat pas. Ada pula Imelda
Staunton, pameran Dolores Umbridge di Harry Potter and The Order of The
Pheonix, yang menjadi kepala departemen sekolah yang menyebalkan dan selalu iri
dengan keberhasilan Erin. Selain itu ada Patrick Demsey, pemeran dr mcdreamy
dalam Grey’s Anatomy, yang bermain sebagai suami Erin yang tidak mendukung
usaha istrinya dan murid-murid(Feedom Writers).
Selain tiga nama di atas
tidak ada lagi nama bintang besar yang berperan dalam film ini. Pemeran
murid-murid di kelas Erin Gruwell, sebagian besar merupakan wajah baru di dunia
perfilman yang belum begitu dikenal baik masyarakat Amerika Serikat sendiri
maupun masyarakat Indonesia. Namun, mereka berhasil membawakan peran
masing-masing dengan sangat baik dan meyakinkan.
Freedom Writers bisa
dikatakan merupakan film untuk anak muda. Di tengah-tengah maraknya film remaja
yang ceritanya tidak jauh-jauh dari cerita cinta, komedi atau horror. Freedom
Writers bisa menjadi pilihan bagi anak muda yang tidak sekedar ingin terhibur,
tetapi juga mendapatkan pelajaran tertentu dari film tersebut.
Bagi Anda yang belum menonton, tidak
akan sia-sia Anda meluangkan waktu sejenak untuk menontonnya. Anda akan dapat
mengambil pelajaran-pelajaran posistif yang terdapat pada Film ini. Semoga
terinspirasi.
(Penulis : Alfika Destianti)
Film
: Freedom Writers
Sutradara:
Richard lagravenese.
Produksi:
Paramount Pictures. Tahun: 2007. Penulis Naskah: Richard lagravenese.
Dibintangi: Hilary Swank, Scott Glenn,
Imelda Staunton, Patrick Dempsey, dan murid- murid (Freedom Writers).
2.
Tokoh dalam Film “ Freedom Writers”
1.
Hilary Swank (Erin Gruwell) sebagai
guru
2.
Freedom Writers :
1.
Scott Glenn ( Steve Gruwell) sebagai
suami Erin Gruwell
2.
Imelda Staunton ( Margaret Campbell) sebagai
kepala departemen sekolah
3.
Robert Wisdom (Dr.Carl Cohn ) sebagai
guru
4.
Patrick Dempsey (Scott Casey) sebagai
siswa
5.
Mario (Andre) sebagai
siswa
6.
April Lee Hernandez ( Eva) sebagai
siswa
7.
John Benjamin Hickey ( Brian Golford) sebagai
siswa
8.
Pat Carroll (Miep Gies) sebagai
siswa
9.
Hunter Paris (Ben) sebagai
siswa
10.
Kristin Herrera (Gloria) sebagai
siswa
11.
Jadyn Ngan (Sindy) sebagai
siswa
12.
Sergio Montalvo (Alejandro) sebagai siswa
13.
Jason Finn (Marcus) sebagai
siswa
14.
Deance Wyatt (jamal) sebagai
siswa
15.
Vanetta Smith(Brandy) sebagai
siswa
16.
Gabriel Chsvarria (Tito) sebagai
siswa
17.
Antonio Garcia (Miguel) sebagai
siswa
18.
Giovannie Samuels (Victoria) sebagai
siswa
19.
Will Morales (Paco) sebagai
siswa
20.
Armand Jones (Grant Rice) sebagai
siswa
21.
Ricardo Molina ( Eva’s Father) sebagai
ayah Eva
22.
Angela Alvarado (Eva’s Mother) sebagai
ibu Eva
23.
Anh Nguyen (Sindy’s Boyfriend) sebagai
teman dekat Sindy
24.
Liisa Cohen (Brandy’s Mother) sebagai
ibu Brandy
25.
Brian Bennett (Brandy’s Father) sebagai
ayah Brandy
26.
Himself (Mr. Horace Hall) sebagai
guru
27.
Tim Halligan (Principal Banning) sebagai
Kepala Sekolah
28.
Lisa Banes (Kavin polachok) sebagai
guru
29.
Giselle Bonilla (Young Eva) sebagai
Eva kecil
30.
Earl Williams ( Young Marcus) sebagai
Marcus kecil
31.
Blake Hightower ( Clive) sebagai
siwa
32.
Angela Sargeant (Marcus’s Mother) sebagai
ibu Marcus
33.
Robin Skye (PTA Mom)
34.
Chil Kong (Stor Owner)
35.
Juan Garcia (Defense Attorney)
36.
Sharaud Moure ( Hall Monitor)
37.
Abel Soto (Gang Member)
38.
Dan Warner (Cop #1)
39.
Randy Hall (cop #2)
40.
Carl Paoli (cop #3)
41.
Dominic Daniel (Drug Dialer)
42.
Cody Chappel (Bookstore Clerk)
43.
Dj Motiv 8 ( Dj)
3.
Pendekatan yang digunakan dalam Film “Freedom Writers”
Menurut saya pendekatan
yang digunakan dalam Film “Freedom Writers” lebih dari satu pendekatan salah
satunya adalah :
a.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan
melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya
sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya
berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa
untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses
pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut
untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip
membelajarkan -memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa
Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam
pembelajaran kontekstual, guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi
siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan
di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam
masyarakatnya (http.//www.contextual.org.id). Pemahaman, penyajian ilmu
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan
dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen
Dikdasmen, 2001: 8). Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat
diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran
di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang
benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan
lingkungan masyarakat luas.
Dalam
kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya.
Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas
yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan
bukan dari “apa kata guru.Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi
tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses,
tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam
memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui
interaksi dengan sesame teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif,
sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen
Dikmenum, 2002:6).
b.
Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir
pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
dengan tiba-tiba(Suwarna,2005). Piaget
(1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut
Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999) kelebihan teori
konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif
melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan
pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran
terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Menurut teori
konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan
berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru.
Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep
dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain
itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan
pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang
juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan
analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne,
Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan
menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali
sebagai parcing.Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam
proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan
menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada
pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka
tentang sesuatu perkara.Kajian Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin,
1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan
konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan
berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional.
Kajian Caprio (1994), Nor Aini (2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis
(1998), dan Lieu (1997) turut membuktikan bahawa pendekatan konstruktivisme
dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih
tinggi dan signifikan.
c.
Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan
konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan
deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan
berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan
konsep dasarnya(Suwarna,2005).
d.
Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan
informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh
pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula
berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
e.
Pendekatan Proses
Pada
pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan
siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan,
menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan
dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).Dalam
pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap
proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
f.
Pendekatan
Filosofi
Pendekatan
filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah
pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat
karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata,
yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah
yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh
pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat
dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan
pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan
hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak
bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan
diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Cara kerja pendekatan
filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal,
sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam
tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3)
model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis
tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh
persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi
manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari
dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan
pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran
(standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia,
penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan
salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya,
atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan,
filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang
bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata,
istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau
gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan
secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem
berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).
g.
Pendekatan Individu
Pendekatan
Individu merupakan suatu pendekatan yang diperlukan oleh seorang guru untuk
memahami siswa atau peserta didik dengan cara mengenali, memahami dan
memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar.
h.
Pendekatan Kelompok
Pendekatan
kelompok merupakan jenis pendekatan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta
didik secara berkelompok guna memahami dan
memperhatikan segala sesuatu yang dilakukan oleh peserta didik didalam
proses belajar mengajar
i.
Pendekatan Multidisiplin
Mengingat
kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori
pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan
menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan
holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan
memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang
lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.Jadi
pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh,
pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan sains,
pendekatan religi atau mungkin pendekatan seni , dipergunakan secara terpadu
tidak terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya
harus memiliki hubungan yang komplementer, karena satu sama lainnya saling
melengkapi.
Dan mungkin masih ada
jenis pendekatan lainnya yang tidak saya tuangkan semua dalam tulisan ini.
4.
Jika anda menjadi seorang guru pendekatan apa yang anda gunakan dalam
pembelajaran ?
Jawab : Ketika saya menjadi seorang guru
nanti nya saya akan menggunakan berbagai jenis pendekatan tergantung situasi
dan kondisi dalam proses belajar mengajar.
Hal tersebut saya lakukan agar saya dapat
mengetahui, memahami dan menyesuaikan pendekatan seperti apa yang cocok saya
gunakan pada saat itu untuk peserta didik agar tercipta suasana nyaman dan
tidak membosankan ketika dalam proses belajar mengajar dikelas.
Salah satu pendekatan yang saya gunakan yaitu
:
1. Pendekatan
Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar belakang
bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri
dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan
memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang
akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar,
sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif
dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengajar
siswahttp://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran).
2.
Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan Kontruktivisme merupakan landasan
berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).
3.
Pendekatan Konsep
Pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu
bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses
pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus.
Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).
4.
Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama
pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses
seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan
mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan
sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan
langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).Dalam
pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap
proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
5. Pendekatan
Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
National Science Teachers Association (NSTA)
(1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in
thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses
pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam
pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah,
menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.Definisi lain
tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM
merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread
realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society,
education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian,
pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara
mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai
hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti
bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi
masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap
hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalampengembangan
pembelajaran di era sekarang ini.
6.
Pendekatan Multidisiplin
Mengingat kompleksitas dan
luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang
lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu
pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan
memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan
komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan
semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.Jadi pendekatan yang perlu
kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh,
pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan
sains, pendekatan religi atau mungkin
pendekatan seni , dipergunakan secara terpadu tidak terpisah. Antara pendekatan
yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan yang
komplementer, karena satu sama lainnya saling melengkapi. Dan mungkin masih
banyak jenis pendekatan lain yang akan berkembang seiring berkembangnya Zaman
dan Teknologi serta ilmu pengetahuan.
Sumber :
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar
Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek
(http.//www.contextual.org.id)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar