Selasa, 29 November 2016

RESENSI FILM FREEDOM WRITERS




FILM “ FREEDOM WRITERS”


1.      Sinopsis
Film “Freedom Writers” merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang pendidik ( guru)  di wilayah New Port Beach, Amerika Serikat bernama Erin Gruwell yang diperankan oleh Hilary Swank. Dimana dengan tekad dan semangat dari Erin Gruwell untuk membangkitkan kembali semangat belajar  anak-anak diwilayah New Port Beach, Amerika Serikat tersebut. Erin Gruwell merupakan wanita yang memiliki hati nurani dan rasa kepedulian yang tinggi akan pendidikan teruntuk anak-anak pada masa itu. Erin Gruwell juga merupakan sosok wanita ideal yang memiliki pendidikan tinggi dan pengetahuan luas serta  mengaplikasikan ilmu pengetahuan tersebut secara baik dan benar.
Erin Gruwell datang kesalah satu sekolah yang ada di Amerika serikat tepatnya diwilayah  New Port Beach bernama Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian kekerasan antar geng dan konflik rasial.  Tujuan utama Erin Gruwell  sangat mulia, yaitu ingin memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah akibat masa lalu mereka yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar dikelas tersebut yaitu ruang 203 sekolah menengah  Woodrow Wilson.
Dengan semangat dan tekad baja nya Erin Gruwell datang ke sekolah pada hari pertama, disana ia bertemu dengan Imelda Staunton, pemeran Dolores Umbridge di Harry Potter and The Order of The Pheonix, yang menjadi kepala departemen sekolah. Selanjutnya Erin memasuki Ruangan kelas menunggu beberapa menit masih belum datang siswa-siswa pada saat itu. Tak lama kemudian ruangan kelas dipenuhi dengan siswa-siswa yang masuk dengan ciri dan gaya khas mereka yaitu seperti tidak menghormati guru yang ada diruangan tersebut.
Ketika tiba dirumah Erin menceritakan hal tersebut kepada suaminya yaitu Steve Gruwell yang diperankan oleh Scott Glenn dan memintanya agar tidak menceritakan hal tersebut kepada ayahnya.
Sekecil apapun permasalahan yang terjadi dikelas siswa-siswa sangat mudah terpicu akan perkelahian akibat teringat kejadian di Los Angeles, California pada tahun 1992 yang mengakibatkan  korban perkelahian kekerasan antar geng dan konflik rasial pada masa itu. Dan Erin pun menyadari bahwa kejadian tersebut masih terbawa ke ruang kelas 203 yang ia masuki saat ini. Di dalam kelas mereka duduk berkelompok menurut ras masing-masing (yang berkulit putih bersama geng nya) dan (yang berkulit hitampun demikian). Tak ada seorang pun yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda. Kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antarras. Pada saat Erin menulis dipapan tulis terjadi lelucon dengan gambar disebuah kertas  yang memicu pertengkaran antara Eva (April lee Hernandez) dan Erin dimana Eva mengungkapkan segala kekesalannya terhadap orang berkulit putih yang mengingatkannya pada kejadian masa lalu, Eva pun berkata “ aku benci orang berkulit putih’. Erin menjelaskan ini bukan hanya masalah warna kulit, “  jika kau ingin dihormati maka kau yang harus memberi rasa hormat itu.”Aku seorang guru,aku tidak  peduli apa warnaku.
Haripun berlalu Erin tidak putus asa, ia terus mencari ide untuk dapat menaklukan hati anak-anak didiknya. Berbagai usaha dilakukan Erin hingga pada satu pilihan Erin mencoba memberikan sesuatu ysng baru yaitu memberikan pendapat kepada Ms.Campbell dan Dr. Carl Cohn(Robert Wisdom) untuk membuat sebuah buku seperti buku “Anna Frank”.Namun sayangnya hal tersebut tidak diterima oleh kedua rekannya, ia malah ditolak mentah-mentah. Akhirnya ia memutuskan bertindak dengan caranya sendiri dengan membuat suatu permainan yang diperuntukkan kepada siswa ruang 203 yaitu berjalan digaris merah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa-siswa bersahabat dengannya lalu ia memberikan buku harian yaitu siswa-siswanya diminta untuk menulis buku harian untuk menceritakan kisah sendiri maupun pada diri sendiri dan dikumpul dilemari kelas setiap selesai menulisnya. Satu persatu siswapun mengambil buku harian yang dibagikan oleh Erin. Erin meminta mereka menulis segala aktivitas yang mereka lakukan ataupun yang mereka rasakan setiap waktunya yang harus dituangkan kedalam tulisan tersebut. . Cara ini ternyata berhasil. Buku-buku harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari.
Hingga pada suatu ketika Erin membaca satu persatu buku Harian siswa-siswanya. Dan Erin mengambil kesimpulan bahwa para siswanya masiih dipengaruhi oleh tragedi masa lalu yang hingga saat ini masih membayangi mereka. Hingga pada akhirnya Erin pun mengajak siswa-siswanya untuk menyadari bahwa perang antar geng ataupun antar ras baik itu orang berkulit putih maupun berkulit hitam bukanlah menjadi penghalang untuk melanjutkan kehidupan yagn lebih baik dengan didukung oleh pentingnya pendidikan dan memajukan pendidikan itu sendiri. Dan ia pun dapat memenangkan hati siswa-siswanya.
Walaupun semua usahanya itu tidak didukung oleh rekan-rekan guru, pihak sekolah, dan suaminya, Erin terus maju. Bahkan, dia rela mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna  bagi para muridnya.
Hasilnya, semangat belajar murid-muridnya kembali muncul. Akhirnya, banyak dari murid-murid di kelas Erin Gruwell yang menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Buku harian yang mereka tulis diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul ‘The Freedom Writers Diary’.
Film ini menceritakan bagaimana sosok seorang guru yang berjuang untuk anak didiknya demi terciptanya pendidikan yang baik, sehat dan teratur dengan kegigihannya berjuang meluruskan pemikiran anak didik yang terpengaruh oleh lingkugan sekitar dimasa lalu. Dengan keyakinan yang kuat Erin berusaha mengembalikan semangat menempuh pendidikan yang lebih baik dan melanjutkan pendidikan tersebut secara berkesinambungan dan pantang menyerah.

“ Freedom Writers” memiliki alur cerita yang mudah dipahami dan juga dialog yang gampang dimengerti. Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada remaja yang ditampilkan di film ini juga cukup dekat dengan permasalahan remaja pada umumnya, tentang pencarian jati diri dan pelanggaran-pelanggaran peraturan untuk mengukuh-kan eksistensi diri.  Semua itu dibungkus dalam pemasalahan perang antargeng.Fakta menarik dari film ini salah satunya ada pada adegan saat murid-murid Erin bertemu dengan orang-orang korban Holocaust. Yang berperan menjadi korban Holocaust adalah benar-benar korban Holocaust sendiri. Sutradara Richard Lagravenese tak perlu susah payah meng-arahkan aktor dan aktris pemeran murid-murid Erin untuk terlihat tercengang saat mendengar cerita para korban Holocaust itu. Hal ini karena saat pengambilan adegan itu, para aktor dan aktrisnya benar-benar tercengang mendengar cerita para korban Holocaust tersebut.
Peraih Academy Award 2 kali, Hilary Swank memerankan Erin Gruwell dengan sangat pas. Ada pula Imelda Staunton, pameran Dolores Umbridge di Harry Potter and The Order of The Pheonix, yang menjadi kepala departemen sekolah yang menyebalkan dan selalu iri dengan keberhasilan Erin. Selain itu ada Patrick Demsey, pemeran dr mcdreamy dalam Grey’s Anatomy, yang bermain sebagai suami Erin yang tidak mendukung usaha istrinya dan murid-murid(Feedom Writers).
Selain tiga nama di atas tidak ada lagi nama bintang besar yang berperan dalam film ini. Pemeran murid-murid di kelas Erin Gruwell, sebagian besar merupakan wajah baru di dunia perfilman yang belum begitu dikenal baik masyarakat Amerika Serikat sendiri maupun masyarakat Indonesia. Namun, mereka berhasil membawakan peran masing-masing dengan sangat baik dan meyakinkan.
Freedom Writers bisa dikatakan merupakan film untuk anak muda. Di tengah-tengah maraknya film remaja yang ceritanya tidak jauh-jauh dari cerita cinta, komedi atau horror. Freedom Writers bisa menjadi pilihan bagi anak muda yang tidak sekedar ingin terhibur, tetapi juga mendapatkan pelajaran tertentu dari film tersebut.
Bagi Anda yang belum menonton, tidak akan sia-sia Anda meluangkan waktu sejenak untuk menontonnya. Anda akan dapat mengambil pelajaran-pelajaran posistif yang terdapat pada Film ini. Semoga terinspirasi.
(Penulis : Alfika Destianti)
Film : Freedom Writers
Sutradara: Richard lagravenese.
Produksi: Paramount Pictures. Tahun: 2007. Penulis Naskah: Richard lagravenese.
Dibintangi: Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton, Patrick Dempsey, dan murid- murid (Freedom Writers).
2.      Tokoh dalam Film “ Freedom Writers”
1.      Hilary Swank (Erin Gruwell)                                sebagai guru
2.      Freedom Writers :
1.      Scott Glenn ( Steve Gruwell)                                    sebagai suami Erin Gruwell
2.      Imelda Staunton ( Margaret Campbell)         sebagai kepala departemen sekolah
3.      Robert Wisdom (Dr.Carl Cohn )                   sebagai guru
4.      Patrick Dempsey (Scott Casey)                     sebagai siswa
5.      Mario (Andre)                                                sebagai siswa
6.      April Lee Hernandez ( Eva)                           sebagai siswa
7.      John Benjamin Hickey ( Brian Golford)        sebagai siswa
8.      Pat Carroll (Miep Gies)                                  sebagai siswa
9.      Hunter Paris (Ben)                                         sebagai siswa
10.  Kristin Herrera (Gloria)                                  sebagai siswa
11.  Jadyn Ngan (Sindy)                                       sebagai siswa
12.  Sergio Montalvo (Alejandro)                         sebagai  siswa
13.  Jason Finn (Marcus)                                       sebagai siswa
14.  Deance Wyatt (jamal)                                    sebagai siswa
15.  Vanetta Smith(Brandy)                                 sebagai siswa
16.  Gabriel Chsvarria (Tito)                                 sebagai siswa
17.  Antonio Garcia (Miguel)                                sebagai siswa
18.  Giovannie Samuels (Victoria)                        sebagai siswa
19.  Will Morales (Paco)                                       sebagai siswa
20.  Armand Jones (Grant Rice)                           sebagai siswa
21.  Ricardo Molina ( Eva’s Father)                     sebagai ayah Eva
22.  Angela Alvarado (Eva’s Mother)                  sebagai ibu Eva
23.  Anh Nguyen (Sindy’s Boyfriend)                 sebagai teman dekat Sindy
24.  Liisa Cohen (Brandy’s Mother)                     sebagai ibu Brandy
25.  Brian Bennett (Brandy’s Father)                   sebagai ayah Brandy
26.  Himself (Mr. Horace Hall)                             sebagai guru
27.  Tim Halligan (Principal Banning)                  sebagai Kepala Sekolah
28.  Lisa Banes (Kavin polachok)                         sebagai guru
29.  Giselle Bonilla (Young Eva)                          sebagai Eva kecil
30.  Earl Williams ( Young Marcus)                     sebagai Marcus kecil
31.  Blake Hightower ( Clive)                               sebagai siwa
32.  Angela Sargeant (Marcus’s Mother)              sebagai ibu Marcus
33.  Robin Skye (PTA Mom)       
34.  Chil Kong (Stor Owner)       
35.  Juan Garcia (Defense Attorney)
36.  Sharaud Moure ( Hall Monitor)
37.  Abel Soto (Gang Member)
38.  Dan Warner (Cop #1)
39.  Randy Hall (cop #2)
40.  Carl Paoli (cop #3)
41.  Dominic Daniel (Drug Dialer)
42.  Cody Chappel (Bookstore Clerk)
43.  Dj Motiv 8 ( Dj)

3.      Pendekatan yang digunakan dalam Film “Freedom Writers”
Menurut saya pendekatan yang digunakan dalam Film “Freedom Writers” lebih dari satu pendekatan salah satunya adalah :                       
a.       Pendekatan Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan -memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa
Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya (http.//www.contextual.org.id). Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen, 2001: 8). Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas.



Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru.Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesame teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6).

b.      Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).   Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999)  kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara.Kajian Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin, 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Caprio (1994), Nor Aini (2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis (1998), dan Lieu (1997) turut membuktikan bahawa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan. 
c.       Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
d.      Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
e.       Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
f.        Pendekatan Filosofi
Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).
g.      Pendekatan Individu
Pendekatan Individu merupakan suatu pendekatan yang diperlukan oleh seorang guru untuk memahami siswa atau peserta didik dengan cara mengenali, memahami dan memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar.
h.      Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok merupakan jenis pendekatan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik secara berkelompok guna memahami dan  memperhatikan segala sesuatu yang dilakukan oleh peserta didik didalam proses belajar mengajar 
i.        Pendekatan Multidisiplin
Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.Jadi pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh, pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan sains, pendekatan religi atau mungkin pendekatan seni , dipergunakan secara terpadu tidak terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan yang komplementer, karena satu sama lainnya saling melengkapi.
Dan mungkin masih ada jenis pendekatan lainnya yang tidak saya tuangkan semua dalam tulisan ini.

4.      Jika anda menjadi seorang guru pendekatan apa yang anda gunakan dalam pembelajaran ?
Jawab : Ketika saya menjadi seorang guru nanti nya saya akan menggunakan berbagai jenis pendekatan tergantung situasi dan kondisi dalam proses belajar mengajar.
Hal tersebut saya lakukan agar saya dapat mengetahui, memahami dan menyesuaikan pendekatan seperti apa yang cocok saya gunakan pada saat itu untuk peserta didik agar tercipta suasana nyaman dan tidak membosankan ketika dalam proses belajar mengajar dikelas.
Salah satu pendekatan yang saya gunakan yaitu :

1.      Pendekatan Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengajar siswahttp://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran).

2.      Pendekatan Konstruktivisme
  Pendekatan Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).
3.      Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).
4.      Pendekatan Proses
   Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya (
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
5.      Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
    National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalampengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
  
6.      Pendekatan Multidisiplin
    Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.Jadi pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh,  pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan sains, pendekatan  religi atau mungkin pendekatan seni , dipergunakan secara terpadu tidak terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan yang komplementer, karena satu sama lainnya saling melengkapi. Dan mungkin masih banyak jenis pendekatan lain yang akan berkembang seiring berkembangnya Zaman dan Teknologi serta ilmu pengetahuan.
  
Sumber :
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek

(http.//www.contextual.org.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar